| Menyimak secara seksama Tausyiah Mamah Dedeh |
| Kunjungan ke Masjid Kubah Mas |
| Kunjungan ke Masjid Istiqlal Jakarta |
| Kunjungan ke Masjid Istiqlal Jakarta |
DENPASAR, Selasa 10 Jumadil Akhir 1536 H / 31 Maret 2015 Pengajian Silaturahim Masjid Baitul Makmur Denpasar yang diketua oleh Ibu Hj. K. Mastikah Arif berjumlah 30 orang berangkat menuju Jakarta untuk mengikuti Tausyiah Mamah Dedeh di studio Indosar pada hari Rabu tanggal 11 Jumadil Akhir 2036 H.
DENPASAR . Alhamdulillah, syahadat
Kapolda Bali Jenderal Bintang Dua Polri Albertus Julius Benny Mokalu merupakan
kabar gembira bagi Ummat Islam Indonesia. Ini merupakan sesuatu yang istimewa
untuk kita syukuri. Namun, ada lagi yang menarik selain hal tersebut.
Keistimewaan itu dihadirkan saudara-saudara Muslimin di Bali, sebagaimana
dilansir Suara Islam, Selasa (11/11/2014).
Suatu hari Ustadz Bachtiar Nasir bertanya bertanya kepada suatu jamaah,
“Islam manakah yang paling baik?” Menurut Beliau Islam yang paling baik itu
bukan Aceh, Sumatera Barat atau Yogyakarta, tetapi Islam terbaik di Indonesia
itu adalah Bali.
Sontak mustami’ heran. Bagaimana mungkin? Setelah mendengarkan penjelasan
Ustadz Bachtiar, ternyata hanya di Bali fenomena jumlah jama’ah Shalat Subuh
lebih banyak dari pada jama’ah Shalat Jum’at terjadi. Di Masjid Baitul Makmur
Denpasar misalnya, jama’ah Shalat Subuhnya bisa mencapai 700 orang, bahkan untuk
hari Ahad lebih banyak lagi, sehingga tidak muat lagi di dalam masjid.
Bukan shalat-shalat jama’ah saja yang semarak, kegiatan-kegiatan seperti
ta’lim dan kajian keislaman tak kalah disambut semangat. Muslimin Bali sangat
antusias dalam mengkaji tafsir, hadis dan sebagainya, bahkan mendatangkan
ustaz-ustaz dari luar. Demikian pula dalam berinfak, tak heran bila amal-amal
sosial Muslim di Bali lebih terurus dengan baik dibandingkan dengan yang
dikelola umat lain yang mayoritas sekalipun. Alhamdulillah.
Sebagaimana stigma umum, Bali selama ini dipersepsikan tak identik dengan
Islam, bahkan mungkin memunculkan pandangan miring. Para pendatang dari luar di
Bali kebanyakan memang beragama Islam, tetapi mungkin lebih diasumsikan mereka
yang memilih bekerja di sana bukan Muslim yang taat. Barangkali diasumsikan pula
Muslim yang taat cenderung tidak memilih bekerja di Bali. “Tetapi kenyataan yang
terjadi, Islam di Bali justru tumbuh [begitu] menakjubkan,” lapor Muhammad Fauzi
pada SI.
Pertanyaannya, bagaimana dengan kita di luar Bali? Dalam kondisi sebagai
mayoritas, kita lebih mengenal Islam, lingkungan dan tempat kita bekerja lebih
kondusif untuk menjalankannya, lebih tersedia berbagai sarana di sekitar kita
yang mempermudah untuk kita menjalankan ibadah. Namun ternyata kemalasan membuat
amal kita tak sebanding dengan peluang yang semestinya bisa diraih.
SI menyentil masjid-masjid di luar Bali, mengapa banyak yang sepi, padahal
hampir setiap RT ada masjidnya. Begitu sedikit orang yang mau mendatangi
majelis-majelis ilmu. Nyaris tak ada lagi rumah-rumah di kota besar (misal,
Jakarta) yang membiasakan membaca Al-Qur’an di dalamnya. Tak sebanding dengan
semaraknya hal-hal yang bersifat hiburan duniawi dan hura-hura di sekitar kita.
Astaghfirullah.
Padahal, beberapa dekade lalu, suasana di Bali masih seperti di negara-negara
Barat, nyaris tanpa simbol-simbol Islam yang menonjol. Untuk mencari tempat
shalat saja sulit. Tak dinyana jika di kemudian hari, syiar Islam di sana justru
tampak bergairah. Sebaliknya di luar Bali, sepertinya malah seperti sudah jenuh
dalam beragama. “Beragama bagi kita rasanya seperti hanya turun-temurun semata,”
ungkap Muhammad Fauzi pada SI.
Antara kuantitas dan kualitas, kita yang secara jumlah mayoritas tampak
seperti hanya minoritas, mungkin seperti buih di lautan. Sebaliknya, Muslimin
Bali dalam kondisi sebagai minoritas, mampu melampauinya, dan benar-benar
menampakkan syiar Islamnya.
Begitulah, dalam kondisi minoritas, penuh keterbatasan, tak menjadikannya
penghalang, Muslimin Bali mampu melampaui keterbatasan tersebut. Sedang Muslimin
di luar Bali, memiliki begitu banyak kesempatan yang terbuka, tetapi mengapa
menyia-nyiakannya? Tidakkah kita malu dengan prestasi yang dicapai
saudara-saudara kita di Bali?
“Seringkali dengan berbagai nikmat yang diberikan kepada kita, tak membuat
kita lebih dekat kepada agama, malah kita lebih banyak lalai, kita seperti tidak
butuh dengan Islam. Sementara, saudara-saudara kita yang sedang terkena berbagai
musibah, cobaan yang berat, menjadi korban konflik dan peperangan, tetapi dalam
kondisi demikian sulit justru membuat mereka mendekat dengan agama,” imbuh
Muhammad Fauzi.
“Jika lebih banyak kesempatan kita sia-siakan, bagaimana jika nikmat-nikmat
yang diberikan kepada kita ini dicabut? Apakah kita menunggu mendapat
cobaan-cobaan seperti itu, baru mau mendekat kepada-Nya?” Ighfirlana yaa
Rabbana.
Masjid yang berlokasi di Jl.
Gunung Merbuk Monang Maning Denpasar ini terletak di satu kompleks halaman
dengan tiga sekolah, yaitu TK Aisyiah, SD Muhammadiyah 3 dan SMP Muhammadiyah
3. Menurut Ir. H. Sentot Surengrono selaku Ketua Yayasan Baitul Makmur, masjid
ini cukup berkontribusi terhadap pendidikan karena berada ditengah-tengah
lingkungan pendidikan. Sehingga berperan aktif dalam memberikan fasilitas
pendidikan keagamaan bagi sekolah yang berada disekitarnya. Pembangunan Masjid
Baitul Makmur pertama kali digagas pada tahun 1982. Pada 5 Agustus 1983, warga
Perumnas Monang Maning didukung Dewan Masjid Indonesia membentuk sebuah panitia
pembangunan masjid. Alhasil pemerintah menyediakan lahan untuk mendirikan
masjid di daerah tersebut. Selanjutnya pembangunan benarbenar dilaksanakan pada
tahun 1987, setelah ada bantuan dari MUI Bali dan Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila.
Peresmian pendirian Masjid Baitul Makmur sendiri dilaksanakan oleh Menteri Ir. Drs. H. Ginanjar Kartasasmita sekitar tahun 1988.
Tidak berselang lama Yayasan Muhammadiyah membangun tiga sekolah dalam satu komplek, yaitu TK Aisyah, SD Muhammadiyah 3, dan SMP Muhammadiyah 2. Keberadaan tiga sekolah tersebut membuat Masjid Baitul Makmur lebih dikenal dengan masjid bernuansa pendidikan. Selanjutnya untuk mempermudah pengelolaan masjid, pada tahun 1992 didirikanlah Yayasan Baitul Makmur yang menaungi Masjid Baitul Makmur. Kuantitas jamaah yang terus meningkat mendorong Yayasan Baitul Makmur untuk merenovasi masjid. Pada tahun 2009, dilakukan renovasi masjid yang masih berjalan hingga sekarang. Proses renovasi masjid yang berdiri di atas lahan 12,89 are ini diperkirakan akan menghabiskan dana ± Rp. 9 M, dan sampai sejauh ini telah menghabiskan dana ± Rp. 6 M. Yayasan Baitul Makmur memiliki beberapa bidang dalam struktur organisasinya guna menjalankan aktivitasnya, diantaranya adalah bidang Ketakmiran yang berfungsi mengatur sholat 5 waktu, sholat Jum’at, pengajian, tafsir Al-Qur’an dan hadits tiap dua minggu sekali, bedah buku, infaq, sodaqoh dan menyediakan fasilitas ketika dilaksanakan kegiatan. Masjid tiga lantai ini juga dilengkapi fasilitas perpustakaan. Bidang Pendidikan secara rutin menyelenggarakan pendidikan Islam non formal, bekerjasama dengan sekolah Muhammadiyah yang berdiri disekitarnya dalam bidang pendidikan Agama Islam. Kegiatan tersebut adalah cara membaca Al-Qur’an yang baik dan benar bagi siswa-siswi sekolah yang dilaksanakan setiap hari Senin–Sabtu pagi. Dilanjutkan malam hari kursus baca tulis Al-Qur’an dengan peserta jamaah umum. Untuk pengajian Ibu-ibu, rutin diadakan sebulan sekali dan juga mengadakan kegiatan sosial kemasyarakatan.
Bidang Amil Zakat berfungsi memberikan bantuan SPP bagi siswa kurang mampu,
beasiswa dan membantu kaum Dhuafa. Prestasi yang diraih Masjid Baitul Makmur
sendiri pernah menjadi pemenang lomba Semarak Muharram 1426 Hijriyah dalam
kategori kegiatan masjid. Perlombaan tersebut diadakan oleh Departemen Agama,
MUI dan DSM Bali pada tahun 2005. Dan pada tanggal 19 Februari 2013, Masjid ini
dipergunakan sebagai tempat pelantikan dan pengukuhan Dewan Masjid Indonesia
untuk wilayah Provinsi Bali. Pelantikan itu dihadiri oleh Bapak Jusuf Kalla
selaku ketua Dewan Masjid Indonesia Pusat.
Sesuai dengan namanya, Baitul Makmur, masjid ini berhasil menjadi lingkungan basis islam yang menunjukan kemakmuran masjidnya.
Sesuai dengan namanya, Baitul Makmur, masjid ini berhasil menjadi lingkungan basis islam yang menunjukan kemakmuran masjidnya.

Sejak berdirinya
Yayasan Baitul Makmur pada tanggal 19 Juni 1992 dengan No : 20 oleh Akte
Notaris Amir Syarifudin maka mulailah Yayasan Baitul Makmur bergerak mengelola masjid dan membina jama’ah masjid
Baitul Makmur.
Selama kurun
waktu 16 (enam belas) tahun dari tahun 1992-2008 telah terjadi beberapa kali
pergantian pengurus dan pada Februari
2008 telah diadakan serah terima Pengurus Yayasan Baitul Makmur periode 2003-2008 kepada Pengurus Yayasan
Baitul Makmur periode 2008 - 2013 dari Drs. H. Anam Zakaria ke Ir. H. S.
Surengrono. Pergantian Pengurus setiap periode tertentu adalah hal biasa dalam
suatu organisasi, ini perlu guna memberikan pembelajaran yang baik bagi
generasi muda berikutnya, serta memberikan kesempatan kepada yang muda untuk
tampil.Selanjutnya Pengurus Yayasan dibawah pimpinan Ir.H.S.Surengrono mulai
melaksanakan tugasnya sesuai dengan AD/ART dan Juklaknya (petunjuk
pelaksanaanya).
Untuk mewujudkan
program-programnya maka YBM selain berpegang teguh pada AD/ART juga pada UUNo:
16 tahun 2001 dan UU No: 24 thn 2008 tentang Yayasan. Sebagai mana kita ketahui bahwa pada tahun
2006 YBM telah mendapatkan pengukuhan dengan Akte Perubahan dari Notaris I Gede
Semester Winarno, SH No: 60 tahun 2006 tanggal 18 Oktober 2006 dan pada tahun
itu pula Yayasan Baitul Makmur (YBM) mendapatkan SK Menteri Hukum dan Ham RI
No: C-2593.HT.01.02 tahun 2006 tertanggal 8 November 2006. Yayasan Baitul Makmur ini bergerak dibidang sosial dan
keagamaan khususnya Islam.
Alhamdullillah
dalam perkembanganya sejak dibentuk pada tahun 1992 sampai sekarang YBM telah
mengalami kemajuan yang cukup pesat baik dari segi kwalitas maupun kwantitas,
dan ditengah dinamika masyarakat yang heterogin ternyata YBM mampu tampil dalam
kesejukan yang harmonis dengan tetap
kritis dalam menyikapi situasi sehingga dapat diterima oleh seluruh jama’ah masjid Baitul Makmur.
VISI YAYASAN BAITUL
MAKMUR.
Mewujudkan masyarakat muslim di kawasan Perumnas Monang Maning Denpasar dan
sekitarnya yang diridhoi Allah SWT dikarenakan tegaknya Tauhid, Ukhuwah serta
berkembangnya ilmu pengetahuan dan
kesejahteraan hidup yang memadai.
MISI YAYASAN BAITUL
MAKMUR.
Mengoptimalkan keberadaan Yayasan Baitul Makmur dan Masjid Baitul Makmur
sebagai salah satu karunia Allah SWT untuk :
1.
Menanamkan Tauhid kepada warga muslim secara benar sesuai
Al Qur’an dan Hadis.
2. Menumbuhkan semangat beribadah sesuai tuntunan Rasululloh
SAW.Memupuk kesadaran ukhuwah dan silaturahim.
3.
Menumbuhkan semangat dan kegembiraan mempelajari agama
Islam.
4.
]Meningkatkan
kesejahteraan hidup umat Islam dilingkungan Perumnas Monang Maning dan
sekitarnya.
Sejak tahun 1992
sampai sekarang tahun 2013 Yayasan Baitul Makmur telah mengalami pergantian
Pengurus dengan uraian sebagai berikut :
1. Tahun 1987-1992 sebagai Ketua Umum Pengurus Masjid Baitul
Makmur (belum berbentuk Yayasan) oleh Bp. Drs. Tantowi Djauhari hasil yang
dicapai:
a.
Mengisi perlengkapan ibadah.
b.
Tahapan pemagaran keliling, pembuatan taman sekitar
masjid.
c. Pembelian tanah sebelah timur Masjid seluas 4 (empat) are
dengan mengkoordinir dana dari warga muslim Blok 1 s/d Blok 10 yang kemudian
dihibahkan ke Masjid Baitul Makmur
d.
Membentuk bagan-bagan dalam operasional dan mengembangkan
syi’ar agama Islam.
e. Pembentukan Yayasan Baitul Makmur, hal tersebut diperlukan agar dapat memproses sertifikasi atas Tanah
Hibah dari Negara (Perumnas) dan Warga.
f. Peningkatan jumlah jama’ah di Masjid Baitul Makmur dari
para penghuni perumnas mulai dari Blok I s/d Blok X termasuk juga peningkatan
pemahaman masalah Agama Islam.
g.
Melimpahkan tugas Pengurus Masjid BM ke Yayasan Baitul
Makmur.
2. Tahun 1992-1994 sebagai Ketua Umum Bp. Gunawan, hasil yang dicapai :
a.
Melanjutkan kebijakan kepemimpinan sebelumnya dan merawat
fasilitas.
b.
Mengurus sertifikat Tanah Masjid Baitul Makmur.
c.
Menyusun Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Yayasan Baitul Makmur.
3. Tahun 1994–1998, sebagai Ketua Umum Bp. H. Ramelan, SAg.
hasil yang dicapai:
a.
Pembangunan fasilitas kantor Yayasan Baitul Makmur.
b.
Renovasi pagar keliling dan pembuatan gapura Masjid Baitul
Makmur.
c.
Pembangunan Gedung serba guna Tahap I dan Tahap II.
d.
Menerima hibah Mobil Ambulance dari jama’ah.
e.
Merawat fasilitas Masjid Baitul Makmur.
f.
Melanjutkan penyusunan AD/ART Yayasan Baitul Makmur.
g.
Memfasilitasi jama’ah membentuk Koperasi Karya Makmur.
4. Tahun 1998 -2003, sebagai Ketua Umum Bp. Drs. H. Sukirman
hasil yang dicapai:
a.
Melanjutkan pembangunan Gedung Serba Guna Tahap II lantai
I
b.
Merawat fasilitas masjid dan kantor Yayasan Baitul
Makmur.
c.
Melanjutkan penyusunan AD/ART Yayasan Baitul Makmur
d.
Melanjutkan program-program sebelumnya.
e.
Pengesahan AD
& ART Yayasan Baitul Makmur.
f.
Melanjutkan pengurusan Sertifikasi tanah Yayasan Baitul
Makmur
g. Menyusun tahapan penyesuaian Yayasan Baitul Makmur dengan
peraturan undang-undang yang berlaku yaitu U.U.No.16 Tahun 2001.
5. Tahun 2003-2008, sebagai Ketua Umum Bp.Drs.H.Anam Zakaria
hasil yang dicapai :
a.
Perubahan AD/ART Yayasan Baitul Makmur sesuai U.U. No.16
Tahun 2001.
b.
Pengukuran ulang
atas tanah milik Yayasan Baitul Makmur.
c. Pensertifikatan tanah milik Yayasan Baitul Makmur atas 3
(tiga) buah lahan tanah masing-masing seluas 9,98 are yang berupa hibah dari Perum Perumnas dan 3
are berasal dari pembelian tanah milik SD.3 Muhamadiyah serta lahan 4 are
berupa hibah dari jama’ah warga muslim Perumnas mulai Blok I s/d X yang dibeli
dari PerumPerumnas sehingga luas keseluruhan menjadi 16,98 are.
d.
Pemavingan halaman Masjid dan Parkir, pembuatan Gapura di
Timur Masjid BM dan di Utara Masjid BM.
6. Tahun 2008 – 2013,sebagai Ketua Umum Bp.Ir. H. S.
Surengrono hasil yang dicapai:
a. Melanjutkan program–program sebelumnya, antara lain menyempurnakan ART
(Anggaran Rumah Tangga) selesai pada tanggal 1 September 2008 dan sudah
dibukukan menjadi satu kesatuan dengan AD/ART YBM.
b.
Membangun koordinasi dengan KWM-RWM.
c.
Merawat fasilitas masjid dan bangunan lainnya.
d.
Mendayagunakan pemakaian perkantoran/Sekretariat YBM
serta imformasi kegiatan YBM ke para jama’ah masjid BM.
e.
Meningkatkan peran dan fungsi bidang-bidang dalam
struktur organisasi YBM terutama Bidang Kemakmuran Masjid/Ketakmiran dan
Lembaga Amal Zakat serta Fardhu Kifayah
demikian pula dengan TPQ & TPA sehingga keberadaannya dapat dirasakan
oleh Jama’ah maupun Warga Perumnas dan sekitarnya.
f.
Pembentukan Panitya Pembangunan & Renovasi Masjid
Baitul Makmur dan fasilitasnya.
g. Pelaksanaan Pembangunan dan Renovasi serta fasilitasnya
dimulai Tahap I pada Tahun 2009,dan sekarang 18 Juli 2013 sudah pada Tahap V dengan menelan dana kurang lebih Rp
5.000.000.000 (lima milyard rupiah).
h. Penggalangan dana dengan sistem sertifikat Wakaf maupun
dengan sistem Gathering dengan maksud agar rencana Pembangunan & Renovasi
Masjid segera dapat terwujud.
i.
Memproses dan berhasil dapat IMB dengan Nomor:
02/48/143/DB/DISPER/2011, tanggal 10 Januari 2011.
Sesuai ketentuan
yang berlaku kepengurusan Ir. H. S. Surengrono harusnya berakhir pada 08
February 2013, namun Pembina YBM memutuskan untuk memperpanjang kepengurusan ini sampai dengan 08 Februari
2014 hal tersebut dilakukan demi kelangsungan pembangunan renovasi masjid BM
dengan harapan kepengurusan periode ini dapat menyerahkan bangunan masjid dalam
kondisi lebih sempurna.
7.Tahun 2013 – 2014, sebagai Ketua
Umum Bp.Ir. H. S. Surengrono hasil yang dicapai sebagai berikut :
a.
Meneruskan Renovasi Pembangunan masjid BM yang saat ini
telah mendekati 90%.
b.
Pembinaan TPQ BM dengan mengadakan kerja sama dengan
lembaga pendidikan lain misalnya SD Muhammadiyah 3, SMP Muhammadiyah 2 dan
lainya.
c. Membeli aset baru berupa rumah tinggal dengan lahan
seluas 1,41are di Jln.Gn.Resimuka Barat No.41 Monang maning,Denpasar pada
tanggal 28 Juli 2013 seharga Rp 1.140.000.000. (Satu milyard seratus empat
puluh juta rupiah) dari Sdr H.Tazzudin Ifa’i ST.
d. Memproses balik nama dari pemilik lama lahan tersebut diatas agar dapat diwakafkan langsung ke Yayasan Baitul Makmur (Masjid Baitul Makmur)..
d. Memproses balik nama dari pemilik lama lahan tersebut diatas agar dapat diwakafkan langsung ke Yayasan Baitul Makmur (Masjid Baitul Makmur)..




