• Home
  • About
  • Contact
facebook twitter instagram

Masjid Baitul Makmur


Oleh: Muhammad Syukri Kurnia Rahman, Ketua Puskomnas FSLDK, Penulis Buku “Hidup Sekali, Jangan Merugi”
CERITANYA hari itu seorang professor masuk ke kelas kami. Mengajar sebuah pelajaran sederhana: pengukuran tekanan darah. Bahasa awamnya, tensi.
Beliau cukup sepuh dibanding kami yang baru semester satu. Ekspektasi kami sederhana: ini orang pasti jagoan.
Izinkan saya potong sejenak. Secara umum, di dunia kami ada dua cabang besar dalam pembagian jalur kelimuan. Pertama jalur akademik, dan kedua jalur profesi. Yang pertama ini berkutat dengan pendidikan dan penelitian. Mereka yang memilihnya akan menjadi akademisi atau peneliti. Dan yang kedua akan berkutat dengan kasus-kasus di lapangan. Mereka yang menekuninya akan menjadi seorang klinisi. Seorang calon dokter bisa memilih satu jalur atau dua-duanya. Menjadi peneliti, klinisi, atau klinisi yang terus meneliti.
Nah, professor kami tadi, beliau murni seorang peneliti. Sama sekali tidak bersentuhan dengan urusan klinis. Mungkin tersebab tidak pernah lagi memegang tensimeter –karena bukan klinisi-, beliau sedikit gelagapan saat mengajarkan tentang cara mengukur tekanan darah. Sesuatu yang –bahkan sebenarnya-, anda tidak harus menjadi dokter untuk bisa melakukannya.
Begitu beliau selesai dengan kelasnya, mulailah satu persatu reaksi bermunculan. “Amarah” yang dipendam selama pelajaran berlangsung kini seperti menemukan muaranya.
“Gimana sih, masak iya jadi dosen ngajarnya kayak gitu?”. Atau “Masak iya sih ngajar tensi aja nggak bisa?” Dan berbagai macam “umpatan-umpatan” lain yang sepertinya sudah tak kuasa ditahan lebih lama lagi.
Wajar sebenarnya. Toh professor itu memang tidak bisa memenuhi ekspektasi murid-muridnya. Tapi petanyaannya, apakah pantas? Nah, mari kita pelajari.
——
Kita tahu apa itu adab. Sederhananya, adab adalah bagaimana kita menempatkan diri kita pada sesuatu yang sedang kita hadapi. Itu adab.
Seberapa penting pembahasan adab ini kita masukan pada saat kita membahas tentang tema menuntut ilmu?
Maka jawabannya adalah persis seperti apa yang disampaikan oleh abddullah ibnul mubarak.
Kata beliau, “Belajarlah adab sebelum belajar ilmu, karena ilmu tidak akan berguna tanpa adab. Demi allah, jika suatu saat kita mati saat mempelajari adab meskipun kita belum selesai mempelajari ilmu, maka itu sudah cukup bagi kita untuk menghadap Allah.”
Suatu hari Ibnu Sina sedang mendengarkan gurunya menyampaikan pengajarannya. Dengan kepandaian tingkat dewa yang dia punya, dia ajukan pertanyaan kepada sang guru, dengan maksud untuk menguji pemahaman gurunya. Jadi sebenarnya dia tahu apa jawabannya, namun dia ingin menguji seberapa hebat kemampuan gurunya.
Tiba-tiba berdirilah seorang murid senior dan mengatakan tepat di depan Ibnu Sinna, “Perbaikilah adabmu, wahai putra sinna. Demi Allah aku sendiri yang akan menjawab pertanyaanmu. Tidak perlu guru yang turun tangan menjawab pertanyaanmu!”
Berbicara tentang adab menuntut ilmu, maka sebenarnya kita sedang berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih penting daripada ilmu itu sendiri.
Imam syafi’i dengan sangat cemerlang mengajari kita tentang hal ini. Beliau mempunyai dua guru. Imam malik di madinah, dan Muslim bin Khalid Az-Zanji di makkah. Di dua tempat ini, seperti umumnya orang yang sedang berguru, imam syafi’i diberi kesempatan “magang” mengajar di majelis sang guru, dengan didampingi oleh beliau. Ada dua kursi disana. Satu untuk imam syafi’i, satu untuk sang guru. Di tengah-tengah beliau mengajar, beliau selalu menoleh ke arah sang guru, memastikan bahwa apa yang beliau ucapkan sudah tepat, dan meminta koreksi jika apa yang beliau sampaikan ternyata keliru. Itu waktu gurunya masih hidup.
Hebatnya, begitu kedua gurunya meninggal, beliau sama sekali tidak merubah kebiasaan itu. Tetap ada dua kuris di sana. Yang satu kursi diduduki beliau, yang satu kursi dibiarkan kosong (seolah-olah sang guru akan datang dan menduduki kursi itu). Bahkan saat tengah asik mengajar, beberapa kali beliau menoleh ke kursi kosong itu, meminta persetujuan dan koreksi, seolah-olah sang guru sedang ada di sana mendampinginya. Hebat bukan?
Pada akhirnya kita mengerti. Kunci rahasia mengapa Imam Syafi’i begitu dihormati adalah karena beliau juga sangat menghormati guru-gurunya. Menempatkan mereka pada posisi dimana seharusnya mereka ditempatkan. Memperlakukan mereka dengan sebaik-baik perlakuan, dan memberi penghormatan dengan setulus-tulus penghormatan.
Mungkin akan selalu segar di ingatan kita bagaimana seorang Syafi’i muda, dengan azzam kuat yang beliau miliki, beliau membeli kitab al muwatho’ karangan imam malik. Lalu, begitu kitab itu ada di genggaman tangan, dia hafalkan kitab itu dari awal hingga akhir. Setelah itu dia pergi ke imam malik. Untuk apa? Untuk belajar al muwatho’ yang sudah dia hafal di luar kepala.
Namun Syafi’i muda bukanlah kita, yang –jangankan hafal—tahu sedikit tentang sesuatu saja, kadang kita merasa tidak perlu belajar lagi. Sekali lagi Syafi’i muda bukanlah seperti kita. Walau dia hafal betul semua detail tulisan di al muwatho’, dia tetap dengan seksama mendengar penjelasan imam malik. Sebenarnya dia sudah tahu kata-kata apa yang akan disampaikan sang guru, namun dengan tekun dia dengarkan apa yang diajarkan gurunya itu, tanpa merasa sudah serba tahu. Hingga akhirnya imam malik yang justru menyadari “kejanggalan” ini.
“Nak, sepertinya kamu sudah tidak perlu aku ajari lagi. Sekarang gantian, kamu saja yang mengajar di sini.”
Dan ini yang menarik. Imam malik, sang pengarang kitab al muwatho’ itu, beliau masih “membutuhkan” catatan saat mengajarkan kitabnya sendiri. Sedangkan syafi’i? Dia tak perlu catatan lagi untuk mengajarkan kitab yang bahkan bukan karangannya.
Dari Imam syafi’i kita belajar tentang sebuah hal besar. Ada sebuah rangkaian paling penting dalam keberjalanan kita menuntut ilmu. Dia dinamakan adab, utamanya adalah adab terhadap guru-guru kita yang dengan rela membagi ilmu yang mereka punya.
Tolok ukur kebermanfaatan ilmu kita adalah, dengan adanya ilmu yang kita punya, kita semakin dekat kepadaNya. Maka otomatis, kita akan semakin rendah hati, karena kita benar-benar menyadari bahwa kita tidak akan menjadi apa-apa kalau Allah tidak mengizinkannya. Oleh karena itu, ketika ilmu yang kita punya justru membuat kita berani seenaknya menghina yang lainnya, menganggap rendah guru-guru kita, dan merasa tidak perlu lagi mendapat nasihat dari saudaranya, masihkah ia bisa dikatakan memberi manfaat untuk kita? Mari bertanya kepada diri kita masing-masing. Bisa jadi, belum manfaatnya ilmu kita selama ini hanya karena sebuah hal sederhana: buruknya adab kita. 
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Hukuman Orang yang Tidak Mau Membayar Zakat Apabila seorang muslim kaum muslimin tidak mau membayar zakat karena menolak zakat sebagai suatu kewajiban, maka berlaku bagi mereka hukum sebagai orang-orang murtad. Sebab mereka dihukumi murtad, karena dalil-dalil mengenai zakat ini sudah jelas, gamblang dan tak dapat ditawar lagi, baik dalil yang Al-Qur’an, Sunnah Rasul-Nya atau kesepakatan para sahabat.
Apabila sebagian umat Islam tidak mau membayar zakat, tetapi mereka masih mengakuti zakat sebagai suatu kewajiban; atau sengaja hanya mau mengelak dari kewajiban membayar zakat dengan menyembunyikan harta bendanya, maka wajib bagi Imam (pemerintah) untuk memungut zakat mereka secara paksa, dan mengenakan hukuman ta’zir.

Keadaan yang kami sebutkan tadi berlaku selama orang-orang yang wajib menunaikan zakat masih berada dalam wewenang kekuasaan sang Imam dan mentaatinya. Tetapi, apabila mereka termasuk orang-orang yang menentang Imam dan tidak mau menuruti perintahnya, maka wajib bagi Imam memerangi dan memaksa mereka agar mau membayar zakat, jika memang keadaannya memungkinkan. Sebab, zakat adalah rukun Islam dan merupakan tiang sendinya. Dengan memberikan zakat, berarti mentaati ajaran Islam; dan melalaikan zakat berarti menentang ajaran Islam. Oleh karena itu, pada masa khalifah Abu Bakar, beliau memerangi orang-orang yang tidak mau mendirikan shalat dan tidak mau menunaikan kewajiban zakat. Pada mulanya beliau mendapat hambatan dari sahabat ‘Umar. Tetapi beliau menjawab dengan kata-kata tegas yang bunyinya sebagai berikut :
ﻭﺍﻟﻠﻪ ﻷﻗﺎﺗﻠﻦ ﻣﻦ ﻓﺮﻕ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﻟﺰﻛﺎﺓ , ﻓﺎﻥ ﺍﻟﺰﻛﺎﺓ ﺣﻖ ﺍﻟﻤﺎﻝ ﻭﺍﻟﻠﻪ ﻟﻮ ﻣﻨﻌﻮﻧﺔ ﻋﻨﺎﻗﺎ ﻛﺎﻧﻮﺍ ﻳﺆﺩﻭﻧﻬﺎ ﻟﺮﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﻟﻘﺎﺗﻠﺘﻬﻢ ﻋﻠﻰ ﻣﻨﻌﻬﺎ
“Demi Allah, saya akan memerangi orang yang memisahkan antara shalat dan zakat; karena sesungguhnya zakat itu adalah hak (kewajiban) pada harta benda. Demi Allah, seandainya mereka tidak memberikan (zakat) seekor unta yang biasa mereka berikan pada Rasulullah, saya akan perangi mereka”.
Mendengar jawaban Abu Bakar itu, ‘Umar RA menerima alasan beliau. Lalu ‘Umar berkata: “Demi Allah, hal itu tiada lain karena Allah telah membuka dada Abu Bakar (dalam memahami syariat Islam). Akhirnya saya menyadari bahwa memerangi mereka adalah haq”.
Mungkin, pada masa khalifah Abu Bakar adalah negara pertama yang membela hak-hak kaum fakir miskin dan golongan-golongan lemah. Abu Bakar membela mereka dengan memerangi orang-orang yang tidak mau membayar kewajiban zakat. Beliau berpendapat bahwa zakat termasuk ibadah yang wajib dilaksanakan yang bertalian dengan harta benda. Barangsiapa melalaikan salah satu kewajiban yang menjadi sendi agama, maka ia harus diperangi. Oleh karena itu, kebanyakan sahabat, termasuk ‘Umar menyetujui rencana khalifah Abu Bakar untuk memerangi kaum muslimin yang tidak mau membayar zakat.
Demikianlah sekitar mengenai hukuman bagi orang yang melalaikan zakat. Dalam masyarakat Islam tak ada suatu golongan pun yang mengaku dirinya sebagai golongan muslim kecuali harus menunaikan kewajiban-kewajiban yang telah dibebankan oleh agama kepada mereka. Dan salah satu di antara kewajiban-kewajiban itu ialah menjamin golongan lemah melalui zakat.

Apa yang kita saksikan sekarang banyak orang-orang yang mengaku dirinya sebagai muslim, tetapi tidak menunaikan zakat. Bahkan memeras golongan yang tidak mampu untuk melipatgandakan kekayaan dan melampiaskan hawa nafsunya. Orang-orang yang demikian, tidak ada tempat dalam masyarakat Islam.
Dalam jumlah yang tidak sedikit, orang-orang tersebut melakukan kebebasan penuh untuk melampiaskan nafsu, sehingga mereka semakin kaya yang akhirnya muncul golongan kapitalis. Golongan ini tidak pernah menunaikan kewajibannya terhadap kaum fakir miskin dan orang-orang lemah. Di samping itu, muncul pula golongan kaum lemah yang hidup serba kekurangan.

Setelah sekian lama berkembang, maka muncul kelompok-kelompok ektrim yang membentuk suatu front menghadapi kelaliman kaum kapitalis. Golongan ini mengatakan bahwa agama adalah pendukung kaum borjuis. Pemikiran ini ternyata mendapat sambutan hangat di berbagai kawasan Negara-negara Arab. Akhirnya muncul kelompok-kelompk yang mengancam persatuan umat dan menimbulkan keguncangan dalam negeri.
Dengan kembali kepada ajaran Islam melalui praktek penarikan zakat dari tangan kaum hartawan yang dikoordinir oleh pemerintah, kiranya cukup dapat menjamin fakir miskin, sekalipun merupakan jawaban lagi tuduhan batil yang ditunjukkan kepada Islam. Selain itu, dengan diterapkannya peraturan ini, berarti mewujudkan ajaran Islam secara benar, yaitu sebagai penolong kaum fakir miskin. Kita tidak usah mendatangkan prinsip-prinsip dan pemikiran-pemikiran dari luar guna memperbaiki masyarakat Islam. Sebab, kaum muslimin dapat menanggulangi problema sosial dengan caranya sendiri, dan dapat memecahkan problema ekonomi dengan jaran agamanya sendir
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar





Zakat merupakan salah satu pilar dari pilar islam yang lima, Allah SWT telah mewajibkan bagi setiap muslim untuk mengeluarkannya sebagai penyuci harta mereka, yaitu bagi mereka yang telah memiliki harta sampai nishab (batas terendah wajibnya zakat) dan telah lewat atas kepemilikan harta tersebut masa haul (satu tahun bagi harta simpanan dan niaga, atau telah tiba saat memanen hasil pertanian).
Banyak sekali dalil-dalil baik dari al-quran maupun as-sunnah sahihah yang menjelaskan tentang keutamaan zakat, infaq dan shadaqah. Sebagai mana firman Allah taala yang berbunyi:
Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula ) mereka bersedih hati. (Q.S. Al Baqarah : 277 ).
Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya). (Q.S. Ar-Ruum : 39 )
Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Q.S. Al Baqarah : 274)
Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Q.S. At Taubah : 103 )
Adapun hadist-hadits Nabi yang menjelaskan akan keutamaannya antara lain :
Dari Abu Huraira radhiyallahu `anhu bahwa seorang Arab Badui mendatangi Nabi shallallahu `alaihi wasallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah! beritahu aku suatu amalan, bila aku mengerjakannya, aku masuk surga?”, Beliau bersabda : “ Beribadahlah kepada Allah dan jangan berbuat syirik kepada-Nya, dirikan shalat, bayarkan zakat yang diwajibkan, dan berpuasa di bulan Ramadhan,”
Dari Abu Huraira radhiyallahu `anhu , ia berkata : “Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam bersabda : “ Siapa yang bersedekah dengan sebiji korma yang berasal dari usahanya yang halal lagi baik (Allah tidak menerima kecuali dari yang halal lagi baik), maka sesungguhnya Allah menerima sedekah tersebut dengan tangan kanan- Nya kemudian Allah menjaga dan memeliha rnya untuk pemiliknya seperti seseorang di antara kalian yang menjaga dan memelihar a anak kudanya. Hingga sedekah tersebut menjadi sebesar gunung.”
Zakat, infaq dan shodaqah memiliki Keutamaan dan faedah yang sangat banyak, bahkan sebagian ulama telah menyebutkan lebih dari sepuluh faedah maupun manfaatnya, diantaranya:
Ia bisa meredam kemurkaan Allah, Rasulullah SAW, bersabda: ” Sesunggunhnya shadaqah secara sembunyi-sembunyi bisa memadamkan kemurkaan Rabb (Allah)” (Shahih At-targhib)
Menghapuskan kesalahan seorang hamba, beliau bersabda: ”Dan Shadaqah bisa menghapuskan kesalahan sebagaimana air memadamkan api” (Shahih At-targhib)
Orang yang bersedekah dengan ikhlas akan mendapatkan perlindungan dan naungan Arsy di hari kiamat.
Rasulullah saw bersabda: “Tujuh kelompok yang akan mendapatkan naungan dari Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya diantaranya yaitu: “Seseorang yang menyedekahkan hartanya dengan sembunyi-sembunyi sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya.” (Muttafaq ‘alaih)
Sebagai obat bagi berbagai macam penyakit baik penyakit jasmani maupun rohani. Rasulullah saw, bersabda: “Obatilah orang-orang yang sakit diantaramu dengan shadaqah.” (Shahih At-targhib) beliau juga bersabda kepada orang yang mengeluhkan tentang kekerasan hatinya: “Jika engkau ingin melunakkan hatimu maka berilah makan pada orang miskin dan usaplah kepala anak yatim.” (HR. Ahmad)
Sebagai penolak berbagai macam bencana dan musibah. Orang yang berinfaq akan didoakan oleh malaikat setiap hari sebagaimana sabda Rasulullah saw: “Tidaklah dating suatu hari kecuali akan turun dua malaikat yang salah satunya mengatakan, “Ya, Allah berilah orang-orang yang berinfaq itu balasan, dan yang lain mengatakan, “Ya, Allah berilah pada orang yang bakhil kebinasaan (hartanya).”
Orang yang membayar zakat akan Allah berkahi hartanya, Rasulullah saw bersabda: “Tidaklah shadaqah itu mengurangi harta.” (HR. Muslim)
Allah akan melipatgandakan pahala orang yang bersedekah, (QS. Al- Baqarah: 245)
Shodaqah merupakan indikasi kebenaran iman seseorang, Rasulullah saw bersabda, “Shadaqah merupakan bukti (keimanan).” (HR.Muslim)
Shodaqah merupakan pembersih harta dan mensucikannya dari kotoran, sebagaimana wasiat beliau kepada para pedagang, “Wahai pa ra pedagang sesungguhnya jual beli ini dicampuri dengan perbuatan sia-sia dan sumpah oleh karena ber sihkanlah ia dengan shadaqah.” (HR. Ahmad, Nasai dan Ibnu Majah juga disebutkan dalam Shahih Al-Jami’).
Demikian beberapa keutamaan, manfaat dan faedah dari zakat, infaq, dan shodaqah yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah, kita memohon semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk orang-orang yang senang berinfaq dan bershadaqah serta menunaikan zakat dengan ikhlas karena mengharap keridhaan-Nya, amin ya rabbal ‘alamin.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Rasulullah saw bersabda:
Sedekah dapat menolak kematian yang buruk. (Al-Wasail 6: 255, hadis ke 2) Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata:
Pada suatu hari orang yahudi lewat dekat Rasulullah saw, lalu ia mengucapkan: Assam alayka (kematian atasmu). Rasulullah saw menjawab: Alayka (atasmu). Lalu para sahabatnya berkata: Ia mengucapkan salam atasmu dengan ucapan kematian, ia berkata: kematian atasmu. Nabi saw bersabda: “Demikian juga jawabanku. Kemudian Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya orang yahudi ini tengkuknya akan digigit oleh binatang yang hitam (ular dan kalajengking) dan mematikannya. Kemudian orang yahudi itu pergi mencari kayu bakar lalu ia membawa kayu bakar yang banyak. Rasulullah saw belum meninggalkan tempat itu yahudi tersebut lewat lagi (belum mati). Maka Rasulullah saw bersabda kepadanya: Letakkan kayu bakarmu. Ternyata di dalam kayu bakar itu ada binatang hitam seperti yang dinyatakan oleh beliau. Kemudian Rasulullah saw bersabda: Wahai yahudi, amal apa yang kamu lakukan? Ia menjawab: Aku tidak punya kerjaan kecuali mencari kayu bakar seperti yang aku bawa ini, dan aku membawa dua potong roti, lalu aku makan yang satu potong dan satu potong yang lain aku sedekahkan pada orang miskin. Maka Rasulullah saw bersabda: Dengan sedekah itu Allah menyelamatkan dia. SelanjutnyaRasulullah saw bersabda:

Sedekah dapat menolak kematian yang buruk. (Al-Wasail 6: 255, hadis ke 2)
Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata:

Pada suatu hari orang yahudi lewat dekat Rasulullah saw, lalu ia mengucapkan: Assam alayka (kematian atasmu). Rasulullah saw menjawab: Alayka (atasmu). Lalu para sahabatnya berkata: Ia mengucapkan salam atasmu dengan ucapan kematian, ia berkata: kematian atasmu. Nabi saw bersabda: “Demikian juga jawabanku. Kemudian Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya orang yahudi ini tengkuknya akan digigit oleh binatang yang hitam (ular dan kalajengking) dan mematikannya. Kemudian orang yahudi itu pergi mencari kayu bakar lalu ia membawa kayu bakar yang banyak. Rasulullah saw belum meninggalkan tempat itu yahudi tersebut lewat lagi (belum mati). Maka Rasulullah saw bersabda kepadanya: Letakkan kayu bakarmu. Ternyata di dalam kayu bakar itu ada binatang hitam seperti yang dinyatakan oleh beliau. Kemudian Rasulullah saw bersabda: Wahai yahudi, amal apa yang kamu lakukan? Ia menjawab: Aku tidak punya kerjaan kecuali mencari kayu bakar seperti yang aku bawa ini, dan aku membawa dua potong roti, lalu aku makan yang satu potong dan satu potong yang lain aku sedekahkan pada orang miskin. Maka Rasulullah saw bersabda: Dengan sedekah itu Allah menyelamatkan dia. Selanjutnya beliau bersabda: Sedekah dapat menyelamatkan manusia dari kematian yang buruk. (Al-Wasail 6: 267, hadis ke 4)

beliau bersabda: Sedekah dapat menyelamatkan manusia dari kematian yang buruk. (Al-Wasail 6: 267, hadis ke 4)



Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
ADAB BERSEDEKAH

1. Ikhlas Karena Allah SWT
ALLAH سبحانه وتعالى berfirman artinya, "Sesungguhnya KAMI menurunkan kitab (al-Qur'an) kpdmu (Muhammad) dgn (membawa) kebenaran. Maka beribadahlah kpd ALLAH dgn tulus ikhlas beragama kepada-Nya." (QS. Az-Zumar: 2). Ayat ini menjadi dasar bahwa beribadah kepada ALLAH harus dilandasi niatan yang ikhlas di dalamnya.

2. Bersedekah dengan harta halal dan baik.
Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda, أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا

"Wahai manusia, sesungguhnya ALLAH Maha Baik dan tdk menerima sesuatu melainkan hal2 yg baik." (HR. Muslim)

3. Bersedekah dengan sesuatu yg paling disukai
ALLAH سبحانه وتعالى berfirman artinya, "Kamu tdk akan memperoleh kebajikan, sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yg kamu cintai. Dan apa pun yg kamu infakkan, tentang hal itu sungguh ALLAH Maha Mengetahui." (HR. Ali-Imran: 92)

4. Tidak meremehkan sedekah meskipun sedikit
Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda, "Jauhilah Neraka!. Meskipun hanya (bersedekah) dgn separuh biji kurma. Barangsiapa msh tdk mampu, (bersedekahlah) dgn perkataan yg baik." (HR. Bukhari)

5. Tidak mengungkit-ungkit dan menyakiti perasaan org yg menerima
ALLAH سبحانه وتعالى berfirman artinya, "Wahai org2 yg beriman! Janganlah kamu merusak sedekahmu dgn menyebut2nya dan menyakiti (perasaan penerima)." (QS. Al-Baqarah: 264)

6. Tidak mengambil kembali sedekahnya
Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda, "Perumpamaan org yg mengambil kembali sedekahnya ialah seperti anjing yg muntah kemudian ia memakan kembali muntahannya tsb." (HR. Muslim)



Share
Tweet
Pin
Share
No komentar



Ada seorang teman datang berkunjung ke sebuah perusahaan, pas dia melewati pintu gerbang melihat tulisan, "Tidak Menerima Permintaan Sumbangan dari Pihak Mana pun."
Teman yg juga seorang motivator tersebu, langsung berkomentar kepada si pemilik perusahaaan.... "Ganti Pak tulisan ini...". "Ganti sama apa?"
Ganti dengan.."Siapa pun yang butuh sumbangan, silakan kemari saja."

Tentu saja komentar itu disambut dengan tawa.  "Nanti pada dateng dong minta sumbangan." "Biarin aja"  Itu kan tandanya rezeki.
Semakin banyak yang datang, maka semakin banyak rezeki.
Lagian, enggak mungkin Allah mempertemukan orang yang susah dengan kita, kalau kita enggak bisa bantu. Jadi kalau didatengin sama yang susah, itu tandanya Alloh sudah mempersiapkan kita untuk bisa membantu".

Banyak orang takut didatangin orang susah. Karena seringkali logika berpikirnya, mereka yang butuh, bakal ngerepotin. Padahal, kita yang butuh mereka.

Suatu hari Rasulullah memberitahu para sahabatnya, bahwa orang-orang miskin nanti akan memiliki kekuasaan.
Sahabat bertanya, "kekuasaan apa ya Rasul?"
Rasulullah menjawab, "Di hari kiamat, nanti akan dikatakan kepada mereka, tariklah mereka yang pernah memberimu makan walau sesuap, minum walau seteguk, pakaian walau selembar. Peganglah tangannya dan tuntunlah ke surga." Masya Allah!!! Dan salah satu kekuatan orang susah, orang miskin, orang yang terdholimi, doanya makbul dan cepat dikabulkan.

Semoga kita semua tergolong insan muqmin yg gemar dan mudah menolong.
Tebarkan kebaikan niscaya kebaikan akan kembali padamu
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube

Categories

recent posts

Sponsor

Facebook

Blog Archive

  • November 2020 (1)
  • Februari 2017 (9)
  • April 2016 (6)
  • April 2015 (2)
  • Maret 2015 (3)

Popular Posts

  • PENGAJIAN IBU SILATURAHIM BAITUL MAKMUR Mamah Dedeh " DOA IBU PEMBATAL AZAB" 12 April 2015
     
  • Rapat Pleno Yayasan Baitul Makmur
    Rapat Pleno yayasan pada hari Ahad, 29 Januari 2016 mengundang 12 Seksi, 1 Lembaga dan 3 Panitia dikepengurusan Yayasan Ba...

Search This Blog

Created with by ThemeXpose | ThemeWide