• Home
  • About
  • Contact
facebook twitter instagram

Masjid Baitul Makmur


Oleh: Qosim Nursheha
Dzulhadi

JAMAN dahulu kaum Muktazilah menganggap Al-Quran sebagai makhlūq (baharu, diciptakan, tidak qadīm) sudah dianggap sedemikian demikian “liberal”. Padahal mereka tidak menginginkan adanya ta‘addud al-qudamā’ (banyaknya yang qadīm selain Allah).

Namun kaum liberal sekarang sepertinya sudah jauh melampaui kaum Muktazilah itu. Karena sudah banyak yang berani menghujat Al-Quran. Alasannya untuk kritik, namun bermula dan berakhir tanpa etika.

Dari Mesir, misalnya, muncul seorang yang bernama Nasr Hamid Abū Zayd yang mengatakan bahwa Al-Quran merupakan “produk budaya” (muntāj tsaqāfī) dalam bukunya Mafhūm al-Naṣṣ. Karena Muhammad bukan penerima yang pasif. Dia benar-benar aktif. Demikian menurut Abū Zayd. Dan dari Perancis muncul Mohammed Arkoun yang mengatakan bahwa sejak ‘Utsmān ibn ‘Affān membukukan Al-Quran ia berubah menjadi “Korpus Resmi Tertutup” (Closed Official Corpus): tidak bisa lagi dikutak-katik, yang seharusnya terbuka. Itu menurut Arkoun. Islam sepertinya harus dipikirkan ulang, katanya dalam Rethinking Islam.

Disamping itu, hujatan kepada Al-Quran datang dari luar, utamanya orientalis. Dan jika dijabarkan ternyata isi orientalis adalah kaum Yahudi dan Kristen. Semuanya menghujat Al-Quran. Diantaranya, mereka menyatakan bahwa Al-Quran dianggap menjiplak Bible bahkan mengandung mitos-mitos terdahulu. Jadi, tidak ada hal baru dalam Al-Quran. Semuanya jiplakan. (Lihat, Qosim Nursheha Dzulhadi, “Studi Al-Quran Orientalis (Tesis di Universitas Darussalam, Gontor, 2011”). Namun hujatan kaum orientalis masih dapat dimaklumi. Karena mereka adalah orang-orang yang tak percaya kepada Al-Quran sebagai wahyu. Yang aneh hujatan itu datang dari dalam, seperti disebutkan sebelumnya.

Dan ternyata, hujatan itu terus berlanjut. Seperti lari estafet: sambung-menyambung menjadi satu. Sulawi Ruba, misalnya, dosen di UIN Sunan Kalijaga menganggap Al-Quran tidak ada apa-apanya. Ia sama saja dengan rumput. Jadi, bisa dipijak. Dan itu dia sampaikan di hadapan mahasiswa yang diajarnya. Dan terakhir, seorang dosen di Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat (UMSB) dikabarkan menginjak Al-Quran. Dengan enteng dia mengatakan, “Saya memang menginjak. Tapi saya istighfar.” Sungguh aneh tapi nyata.

Problem Ilmu dan Adab

Sejatinya, hujatan terhadap Al-Quran berkaitan-erat dengan konsep ilmu. Karena di dalam Islam ilmu itu harus berbanding-lurus dengan iman dan amal. Ilmu adalah gizi iman dan iman itu buah ilmu. Iman kemudian mewujud dalam amal-shaleh. Karena ilmu yang tidak diamalkan, laksana pohon tanpa buah. Dalam bahasa Imam al-Ghazālī (w. 505 H/1111 M), al-‘amal bilā ‘ilm saqīm. Wa al-‘ilm bilā al-‘amal ‘aqīm (amal tanpa ilmu itu sakit. Dan ilmu tanpa amal mandul). Dan salah satu wujud dari buah ilmu itu adalah adab (etika, akhlaq). Artinya, seorang ‘ālim harus beradab. Dan bentuk adabnya adalah kasyyah (rasa takut) kepada Allah (QS: Fāṭir [35]: 28).

Dan ternyata, di ranah ilmu dan adab inilah saat ini menjadi tantangan umat yang paling serius. Terutama tantangan para ulama, intelektual, dan pendidiknya. Dimana banyak intelektual yang, dalam bahasa Prof. al-Attas (l. 1931), lost of adab (kehilangan adab). Dan fenomena lost of adab ini merupakan penyakit kronis yang menjangkiti sebagian intelektual Muslim. Sehingga lahirlah para intelektual yang rajin menghujat Al-Quran bahkan sampai ada yang sangat berani menginjak Al-Quran.

Dan kemungkinan besar mengapa muncul hujatan terhadap Al-Quran adalah karena ilmu dan adab yang minim tentang Al-Quran. Diantaranya adalah ilmu yang menegaskan bahwa Al-Quran itu adalah Kalāmullāh yang suci (sakral), bukan buatan manusia. Ketika ia diyakini sebagai Firman Allah di situ harus muncul proses pengagungan terhadap Al-Quran (ta‘zhīm al-Qur’ān). Jika tidak ada ilmu tentang Al-Quran sebagai Firman Allah, rasa takut (al-khasyyah) tidak akan muncul. Ketika ia tidak muncul, maka yang ada adalah pelecehan dan hujatan terhadpnya.

Maka dapat disimpulkan bahwa ilmu memang tidak serta-merta menjadikan pemiliknya takut kepada Allah. Tergantung ilmu yang dia pelajari mau dijadikan apa. Sehingga ‘Abdullāh ibn ‘Abbās menyatakan, “Ilmu itu ada dua jenis: ilmu yang bersemayam di dalam hati dan ini ilmu yang bermanfaat. Dan ilmu yang hanya keluar dari lisan saja. Ilmu model ini hanya merupakan cara Allah menyesatkan seorang hamba.”

Itu sebabnya dalam Bidāyat al-Hidāyah Imam al-Ghazali (w. 505 H/1111 M) mengutip satu hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassallam  yang berbunyi, “Siapa saja yang bertambah ilmunya namun tidak bertamah hidayahnya. Maka ia akan semakin jauh dari Allah.” Lebih dahsyat lagi adalah hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassallam. yang menyatakan, “Manusia yang paling pedih siksanya di hari kiamat adalah seorang ‘ālim yang ilmunya tidak dimanfaatkan oleh Allah.” (Lihat, Imam Abū Ḥāmid al-Ghazālī, Biāyat al-Hidāyah (Jakarta: Dār al-Kutub al-Islāmiyyah, Cet. I, 1431 H/2010 M), 10).

Kalau demikian, problem sesungguhnya adalah pada ilmu (al-‘ilm) yang benar. Namun tidak sekadar ilmu. Melainkan ilmu yang prosesnya benar, cara menghasilkannya benar, dan tujuannya benar. Ini harus pula dikaitkan dengan konsep niat di dalam menuntut ilmu. Karena seseorang akan mendapat apapun dari amalnya tergantung niatnya. Kalau niat dalam menuntut ilmu sudah rusak, maka ilmu pun akan digunakan pada tujuan-tujuan yang tidak benar.

Padahal, dalam sebuah sabdanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam sudah mengingatkan, “Siapa yang menuntut ilmu untuk berbangga-bangga kepada ulama atau hanya untuk mempermainkan orang-orang bodoh atau agar manusia meliriknya, maka Allah akan masukkan dia ke dalam neraka.” (Lihat, Imam al-Ghazali, Minhāj al-‘Ābidīn (Singapura-Jeddah-Indonesia: al-Haramain, tt., 9).

Itulah problem keilmuan yang sesungguhnya: problem niat ada adab. Yang saat ini sepertinya sudah mulai luntur. Ijazah sepertinya sudah banyak yang mendahulukan. Tapi adab dalam menuntut ilmu menjadi hal yang pinggiran. Maka tidak heran kalau akhir-akhir ini banyak terjadi hujatan terhadap Al-Quran. Karena kitab suci ini sudah tidak lagi dihormati sebagai Firman Tuhan. Padahal jika konsep ilmu dan paham adab-nya mapan, tidak akan terjadi hujatan. Karena, dalam bahasa A. Qodri Azizy, Al-Quran dan hadits tidak mungkin diacak-acak karena ia adalah wahyu. Karena perwujudan ijmā‘ Sahabat sudah jelas. (A. Qodri Azizy, Pengembangan Ilmu-ilmu Keislaman (Semarang: Penerbit Aneka Ilmu, 2003: 14). Wallāhu a‘lam bi al-ṣawāb.*

Penulis adalah guru di Pesantren Ar-Raudhatul Hasanah, Medan-Sumatera Utara. Penulis buku “Membongkar Kedok Liberalisme di Indonesia”
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Adab dan Ilmu
Oleh: Qosim Nursheha Dzulhadi

JAMAN dahulu kaum Muktazilah menganggap Al-Quran sebagai makhlūq (baharu, diciptakan, tidak qadīm) sudah dianggap sedemikian demikian “liberal”. Padahal mereka tidak menginginkan adanya ta‘addud al-qudamā’ (banyaknya yang qadīm selain Allah).

Namun kaum liberal sekarang sepertinya sudah jauh melampaui kaum Muktazilah itu. Karena sudah banyak yang berani menghujat Al-Quran. Alasannya untuk kritik, namun bermula dan berakhir tanpa etika.

Dari Mesir, misalnya, muncul seorang yang bernama Nasr Hamid Abū Zayd yang mengatakan bahwa Al-Quran merupakan “produk budaya” (muntāj tsaqāfī) dalam bukunya Mafhūm al-Naṣṣ. Karena Muhammad bukan penerima yang pasif. Dia benar-benar aktif. Demikian menurut Abū Zayd. Dan dari Perancis muncul Mohammed Arkoun yang mengatakan bahwa sejak ‘Utsmān ibn ‘Affān membukukan Al-Quran ia berubah menjadi “Korpus Resmi Tertutup” (Closed Official Corpus): tidak bisa lagi dikutak-katik, yang seharusnya terbuka. Itu menurut Arkoun. Islam sepertinya harus dipikirkan ulang, katanya dalam Rethinking Islam.

Disamping itu, hujatan kepada Al-Quran datang dari luar, utamanya orientalis. Dan jika dijabarkan ternyata isi orientalis adalah kaum Yahudi dan Kristen. Semuanya menghujat Al-Quran. Diantaranya, mereka menyatakan bahwa Al-Quran dianggap menjiplak Bible bahkan mengandung mitos-mitos terdahulu. Jadi, tidak ada hal baru dalam Al-Quran. Semuanya jiplakan. (Lihat, Qosim Nursheha Dzulhadi, “Studi Al-Quran Orientalis (Tesis di Universitas Darussalam, Gontor, 2011”). Namun hujatan kaum orientalis masih dapat dimaklumi. Karena mereka adalah orang-orang yang tak percaya kepada Al-Quran sebagai wahyu. Yang aneh hujatan itu datang dari dalam, seperti disebutkan sebelumnya.

Dan ternyata, hujatan itu terus berlanjut. Seperti lari estafet: sambung-menyambung menjadi satu. Sulawi Ruba, misalnya, dosen di UIN Sunan Kalijaga menganggap Al-Quran tidak ada apa-apanya. Ia sama saja dengan rumput. Jadi, bisa dipijak. Dan itu dia sampaikan di hadapan mahasiswa yang diajarnya. Dan terakhir, seorang dosen di Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat (UMSB) dikabarkan menginjak Al-Quran. Dengan enteng dia mengatakan, “Saya memang menginjak. Tapi saya istighfar.” Sungguh aneh tapi nyata.

Problem Ilmu dan Adab

Sejatinya, hujatan terhadap Al-Quran berkaitan-erat dengan konsep ilmu. Karena di dalam Islam ilmu itu harus berbanding-lurus dengan iman dan amal. Ilmu adalah gizi iman dan iman itu buah ilmu. Iman kemudian mewujud dalam amal-shaleh. Karena ilmu yang tidak diamalkan, laksana pohon tanpa buah. Dalam bahasa Imam al-Ghazālī (w. 505 H/1111 M), al-‘amal bilā ‘ilm saqīm. Wa al-‘ilm bilā al-‘amal ‘aqīm (amal tanpa ilmu itu sakit. Dan ilmu tanpa amal mandul). Dan salah satu wujud dari buah ilmu itu adalah adab (etika, akhlaq). Artinya, seorang ‘ālim harus beradab. Dan bentuk adabnya adalah kasyyah (rasa takut) kepada Allah (QS: Fāṭir [35]: 28).

Dan ternyata, di ranah ilmu dan adab inilah saat ini menjadi tantangan umat yang paling serius. Terutama tantangan para ulama, intelektual, dan pendidiknya. Dimana banyak intelektual yang, dalam bahasa Prof. al-Attas (l. 1931), lost of adab (kehilangan adab). Dan fenomena lost of adab ini merupakan penyakit kronis yang menjangkiti sebagian intelektual Muslim. Sehingga lahirlah para intelektual yang rajin menghujat Al-Quran bahkan sampai ada yang sangat berani menginjak Al-Quran.

Dan kemungkinan besar mengapa muncul hujatan terhadap Al-Quran adalah karena ilmu dan adab yang minim tentang Al-Quran. Diantaranya adalah ilmu yang menegaskan bahwa Al-Quran itu adalah Kalāmullāh yang suci (sakral), bukan buatan manusia. Ketika ia diyakini sebagai Firman Allah di situ harus muncul proses pengagungan terhadap Al-Quran (ta‘zhīm al-Qur’ān). Jika tidak ada ilmu tentang Al-Quran sebagai Firman Allah, rasa takut (al-khasyyah) tidak akan muncul. Ketika ia tidak muncul, maka yang ada adalah pelecehan dan hujatan terhadpnya.

Maka dapat disimpulkan bahwa ilmu memang tidak serta-merta menjadikan pemiliknya takut kepada Allah. Tergantung ilmu yang dia pelajari mau dijadikan apa. Sehingga ‘Abdullāh ibn ‘Abbās menyatakan, “Ilmu itu ada dua jenis: ilmu yang bersemayam di dalam hati dan ini ilmu yang bermanfaat. Dan ilmu yang hanya keluar dari lisan saja. Ilmu model ini hanya merupakan cara Allah menyesatkan seorang hamba.”

Itu sebabnya dalam Bidāyat al-Hidāyah Imam al-Ghazali (w. 505 H/1111 M) mengutip satu hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassallam  yang berbunyi, “Siapa saja yang bertambah ilmunya namun tidak bertamah hidayahnya. Maka ia akan semakin jauh dari Allah.” Lebih dahsyat lagi adalah hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassallam. yang menyatakan, “Manusia yang paling pedih siksanya di hari kiamat adalah seorang ‘ālim yang ilmunya tidak dimanfaatkan oleh Allah.” (Lihat, Imam Abū Ḥāmid al-Ghazālī, Biāyat al-Hidāyah (Jakarta: Dār al-Kutub al-Islāmiyyah, Cet. I, 1431 H/2010 M), 10).

Kalau demikian, problem sesungguhnya adalah pada ilmu (al-‘ilm) yang benar. Namun tidak sekadar ilmu. Melainkan ilmu yang prosesnya benar, cara menghasilkannya benar, dan tujuannya benar. Ini harus pula dikaitkan dengan konsep niat di dalam menuntut ilmu. Karena seseorang akan mendapat apapun dari amalnya tergantung niatnya. Kalau niat dalam menuntut ilmu sudah rusak, maka ilmu pun akan digunakan pada tujuan-tujuan yang tidak benar.

Padahal, dalam sebuah sabdanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam sudah mengingatkan, “Siapa yang menuntut ilmu untuk berbangga-bangga kepada ulama atau hanya untuk mempermainkan orang-orang bodoh atau agar manusia meliriknya, maka Allah akan masukkan dia ke dalam neraka.” (Lihat, Imam al-Ghazali, Minhāj al-‘Ābidīn (Singapura-Jeddah-Indonesia: al-Haramain, tt., 9).

Itulah problem keilmuan yang sesungguhnya: problem niat ada adab. Yang saat ini sepertinya sudah mulai luntur. Ijazah sepertinya sudah banyak yang mendahulukan. Tapi adab dalam menuntut ilmu menjadi hal yang pinggiran. Maka tidak heran kalau akhir-akhir ini banyak terjadi hujatan terhadap Al-Quran. Karena kitab suci ini sudah tidak lagi dihormati sebagai Firman Tuhan. Padahal jika konsep ilmu dan paham adab-nya mapan, tidak akan terjadi hujatan. Karena, dalam bahasa A. Qodri Azizy, Al-Quran dan hadits tidak mungkin diacak-acak karena ia adalah wahyu. Karena perwujudan ijmā‘ Sahabat sudah jelas. (A. Qodri Azizy, Pengembangan Ilmu-ilmu Keislaman (Semarang: Penerbit Aneka Ilmu, 2003: 14). Wallāhu a‘lam bi al-ṣawāb.*

Penulis adalah guru di Pesantren Ar-Raudhatul Hasanah, Medan-Sumatera Utara. Penulis buku “Membongkar Kedok Liberalisme di Indonesia”
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar






Rapat Pleno yayasan pada hari Ahad, 29 Januari 2016 mengundang 12 Seksi, 1 Lembaga dan 3 Panitia dikepengurusan Yayasan Baitul Makmur Denpasar.
Acara di buka pada pukul 09.30 Wita..dan selesai pukul 15.45 jelang Sholat Ashar
Pembukaan Rapat pleno oleh Wakil Sekretaris yayasan Saudara Mohammad Ali, SPd.I. dilanjutkan bacaan kalam illahi oleh Ustadz Mahyudin Hasan.

Acara berikutnya dilanjutkan sambutan Ketua Umum Yayasan Baitul Makmur Bapak Ir.H.S. Surengrono, memaparkan rencana Kegiatan Jangka Pendek dan Rencana Jangka Panjang sampai periode kepengurusan tahun 2019.

Ketua Pembina Yayasan Baitul Makmur Bapak Suharto HP memberikan sekapur sirih tentang berdirinya masjid bantuan Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila agar kita tidak lupa akan sejarah berdirinya masjid yang kita cintai.

Acara selanjutnya disampaikan Laporan Kegiatan dan Keuangan Tahun 2016 oleh masing Seksi/Lembaga dan Panitia dengan kepada Pleno tentang kegiatan yang sudah dikerjakan dan yang belum terlaksana.

Bada sholat dhuhur berjama'ah rapat dilanjutkan dengan agenda Rencana Kegiatan tahun 2017. Adapun rapat ini di bagi menjadi Empat Koordinator sesuai dengan struktur yayasan yaitu Wakil Ketua I oleh Bapak Drs.H. Jawas Sokan meliputi: Seksi Takmir Masjid, Kematian/Fardhu Kifayah dan Bimbingan Ibadah Haji.
Wakil Ketua II oleh Bapak H. Mushahal Ilyas meliputi Seksi Pendidikan, Pengajian Ibu-Ibu Silaturahim dan Seksi Pemuda & Remaja.
Wakil Ketua III oleh Bapak Ir. H. Hadis Fuqon mendampingi Seksi Sarana dan Logistik, Seksi Inventarisasi Aset dan Seksi Keamanan.
Wakil Ketua IV Bapak H. Ekky Cules, SE berhalangan hadir jadi usulan dari Seksi Pengembangan Aset, Seksi Wirausaha dan Lembaga Amil Zakat ditangan langsung Ketua umum yayasan. 

Alhamdulillah rapat pleno yang dihadiri oleh Koordinator Warga Muslim/KWM  Bapak H. Ahmad Kasim dan Ketua dan Sekretaris Rukun Warga Muslim/RWM Perumnas Monang Maning berjalan dengan lancar dengan segala kerendahan hati jajaran pengurus yayasan menyampaikan permohonan maaf dengan segala kekurangan.







Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Empat Sifat Lebah yang Dapat Ditiru Manusia

Lebah mengeluarkan madu, dan madu mempunyai khasiat kesehatan untuk manusia. Dia produktif dengan kebaikan, dan hasilnya dapat bermanfaat bagi mahluk lain [ilustrasi]

 عَبْدُ اللهِ بنُ عَمْرِ وَبْنِ الْعَاصِ اَنَّهُ سَمِعَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ  اِنَّ مَثَلَ الْمُؤَمِنِ لَكَمَثَلِ النَّحْلَةِ اَكَلَتْ طَيْبًا وَوَضَعَتْ طَيْبًا وَوَقَعَتْ فَلَمْ تُكْسَرْ وَلَمْ تُفْسَدْ

(رواه احمد فى المسند, مسند المكثرين من الصحابة, مسند عبد الله بن عمر و بن العاص)

“Dari Abdullah bin Amru bin Ash bahwa ia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya perumpamaan seorang mukmin seperti lebah. Dia memakan yang baik dan mengeluarkan yang baik, hinggap namun tidak memecah dan merusak.” (HR. Ahmad)

Adalah Abdullah bin Amr bin As-Sahmi Al-Quraisy. Dia masuk Islam sebelum bapaknya. Termasuk ahli ibadah dan ulama dari kalangan sahabat. Dia sudah pandai menulis pada masa jahiliyah. Dia minta izin kepada Rasulullah untuk menulis apa yang dia dengar darinya, maka beliau mengizinkannya. Dia ikut dalam beberapa peperangan dan menyabet dengan dua pedangnya sekaligus. Dia membawa panji bapaknya pada Perang Yarmuk. Mati syahid di Shiffin ikut pihak Muawiyah. Muawiyah mengangkatnya menjadi gubernur di Kuffah dalam beberapa waktu yang tidak terlalu lama. Dia meninggal pada tahun 65 H. Dan hadits-haditsnya yang dicantumkan dalam kitab-kitab sebanyak 700 hadits.

Lebah adalah serangga berbulu dan bersayap empat dan hidup dari madu kembang. Allah memberi kemampuan pada lebah untuk memakan berbagai jenis buah-buahan dan untuk menempuh jalan-jalan yang dimudahkan Allah bagimya sesuai dengan kemauannya, baik di udara, darat, lembah maupun dipegunungan, lalu kembali kesarangnya tanpa tersesat.

Lebah mengeluarkan madu, dan di dalamnya terdapat obat untuk manusia, hal ini sesuai dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’àla dalam Surat Al-Nahl ayat 69:

ثُمَّ كُلِي مِن كُلِّ الثَّمَرَاتِ فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلًا ۚ يَخْرُجُ مِن بُطُونِهَا شَرَابٌ مُّخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِّلنَّاسِ ۗ إِنَّ فِي ذَ‌ٰلِكَ لَآيَةً لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.” (QS. An-Nahl : 69)

Firman Allah Ta’ala, “Di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia”. Kata ganti (hi yang berartinya) kembali kepada madu. Demikian dikatakan oleh Al Jumhur. Dengan kata lain, di dalam madu terdapat kesembuhan bagi manusia.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan pernyataannya dalam hadits diatas mengisyaratkan agar kita meniru sifat-sifat positif yang dimiliki oleh lebah.

Sifat-sifat itu sendiri memang merupakan ilham dari Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaiman firman-Nya dalam Al-Qur’an Surat Al-Nahl ayat 68 :

وَأَوْحَى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ

“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia.” (QS. An-Nahl : 68)

Sifat-Sifat Lebah

Pertama, hinggap di tempat yang bersih dan menyerap hanya yang bersih

Lebah hanya hinggap ditempat-tempat pilihan. Dia sangat jauh berbeda dengan lalat. Serangga yang lain amat mudah ditemui di tempat sampah, kotoran, dan tempat-tempat yang berbau busuk. Tapi lebah tidak, ia hanya akan mendatangi bunga-bunga atau buah-buahan atau tempat bersih lainnya yang mengandung bahan madu atau nektar.

Begitu lah pula sifat seorang mukmin, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.” (QS. Al-Baqarah : 172)

Kedua, mengeluarkan yang bersih.
Lebah mengeluarkan madu, dan madu mempunyai khasiat kesehatan untuk manusia. Dia produktif dengan kebaikan, dan hasilnya dapat bermanfaat bagi mahluk lain. Begitu juga dengan sifat seorang mukmin mampu mengeluarkan kebaikan yang dirasakan oleh manusia dan mahluk lainnya.

Ketiga, Tidak merusak
Seperti yang disebutkan di atas, lebah tidak pernah merusak atau mematahkan ranting yang ia hinggapi. Begitu pula seorang mukmin, setidaknya ia tidak pernah melakukan perusakan dalam hal apapun baik material atau pun non-material.

Keempat, tidak pernah melukai kecuali kalau diganggu.
Lebah tidak pernah memulai untuk menyerang. Ia akan menyerang hanya manakala merasa tergangggu atau terancam. Dan untuk mempertahankan kehormatan umat lebah itu, mereka rela mati dengan melepas sengatnya ditubuh pihak yang diserang. Sifat ini pun setidaknya perlu dimiliki oleh seorang mukmin.

Itulah karakter karakter lebah yang patut ditiru oleh orang-orang  mukmin.

Sungguh, tidaklah sia-sia Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebut dan mengabadikan binatang kecil itu dalam Al-Qur’an sebagai salah satu nama surah, yaitu An-Nahl.
Wallahu a’lam bis- Shawab.

Muhammad bin Muchsin bin Aqil......🐝🐝🐝







Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
LEB


AH yang merupakan salah satu Mahluk terindah dan sempurna yang diciptakan Allah ternyata banyak mengandung kikmah yang bisa kita pelajari.

وَأَوْحَى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتاً وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ

“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah untuk menjadikan gunung, pepohonan, dan tempat tinggal sebagai tempat bersarang.” (QS. an-Nahl [16]:68)

مِن بُطُونِهَا شَرَابٌ مُّخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاء لِلنَّاسِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Rabb) bagi orang-orang yang memikirkan.” (QS. An-Nahl [16]: 69)

Ibarat seorang pekerja yang bekerja banting tulang, kerja keras setiap hari,dengan penghasilan yang begitu berlimpah, namun pekerja tadi hanya mengambil 10% dari pendapatanya, 90% nya ia berikan kepada orang lain, pertanyaannya mampukah banyak orang atau kita sendiri mau melakukan hal itu?

Jawabannya mungkin ada dan sebagian kecil mungkin, sangat kecil, namun hal ini ternyata tidak berlaku pada lebah, dari total konsumsi lebah, ternyata hanya 10% produksi madu dari Sang Lebah tadi yang mereka konsumsi sendiri, artinya 90% hasil produksi mereka, mereka “sedekah” kan untuk siapa? Untuk Manusia.

Kesimpulannya? Lebah memang diciptakan Allah untuk melayani manusia, sehingga sangat tidak bersyukur, kita sudah di fasilitasi Allah melalui lebah ini melalui madu untuk memenuhi kebutuhan manusia.

Namun, di luar itu semua, sungguh lebah begitu banyak memikirkan orang lain, mereka lebih banyak memikirkan bagaimana memberi dan berbagi untuk orang lain khususnya manusia dengan produk produk mereka, Subhanallah.

Adakah dari kita yang mau dan mampu berbagi 90% dari apa yang kita dapatkan? mungkin belum lah kita seperti keikhalasan lebah tapi ternyata salah satu Sahabat Rasulullah berani memberi untuk Allah dan RasulNya dengan memberi seluruh kekayaanya (100%) , dialah Abubakar Radiyallahu anhu.

Mari kita meniru azas manfaat dari lebah agar kita menjadi manusia yang lebih banyak memikirkan orang lain dan berbagi kepada orang lain dan itu semua menjadikan justru semakin bahagia, sehat dan kaya, percayalah.*....
🐝🐝🐝🐝🐝🐝
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
🐝🐝🐝Sedekah Ala Lebah🐝🐝🐝

LEBAH yang merupakan salah satu Mahluk terindah dan sempurna yang diciptakan Allah ternyata banyak mengandung kikmah yang bisa kita pelajari.

وَأَوْحَى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتاً وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ

“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah untuk menjadikan gunung, pepohonan, dan tempat tinggal sebagai tempat bersarang.” (QS. an-Nahl [16]:68)

مِن بُطُونِهَا شَرَابٌ مُّخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاء لِلنَّاسِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Rabb) bagi orang-orang yang memikirkan.” (QS. An-Nahl [16]: 69)

Ibarat seorang pekerja yang bekerja banting tulang, kerja keras setiap hari,dengan penghasilan yang begitu berlimpah, namun pekerja tadi hanya mengambil 10% dari pendapatanya, 90% nya ia berikan kepada orang lain, pertanyaannya mampukah banyak orang atau kita sendiri mau melakukan hal itu?

Jawabannya mungkin ada dan sebagian kecil mungkin, sangat kecil, namun hal ini ternyata tidak berlaku pada lebah, dari total konsumsi lebah, ternyata hanya 10% produksi madu dari Sang Lebah tadi yang mereka konsumsi sendiri, artinya 90% hasil produksi mereka, mereka “sedekah” kan untuk siapa? Untuk Manusia.

Kesimpulannya? Lebah memang diciptakan Allah untuk melayani manusia, sehingga sangat tidak bersyukur, kita sudah di fasilitasi Allah melalui lebah ini melalui madu untuk memenuhi kebutuhan manusia.

Namun, di luar itu semua, sungguh lebah begitu banyak memikirkan orang lain, mereka lebih banyak memikirkan bagaimana memberi dan berbagi untuk orang lain khususnya manusia dengan produk produk mereka, Subhanallah.

Adakah dari kita yang mau dan mampu berbagi 90% dari apa yang kita dapatkan? mungkin belum lah kita seperti keikhalasan lebah tapi ternyata salah satu Sahabat Rasulullah berani memberi untuk Allah dan RasulNya dengan memberi seluruh kekayaanya (100%) , dialah Abubakar Radiyallahu anhu.

Mari kita meniru azas manfaat dari lebah agar kita menjadi manusia yang lebih banyak memikirkan orang lain dan berbagi kepada orang lain dan itu semua menjadikan justru semakin bahagia, sehat dan kaya, percayalah.*....
🐝🐝🐝🐝🐝🐝
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Oleh: Muhammad Syukri Kurnia Rahman, Ketua Puskomnas FSLDK, Penulis Buku “Hidup Sekali, Jangan Merugi”
CERITANYA hari itu seorang professor masuk ke kelas kami. Mengajar sebuah pelajaran sederhana: pengukuran tekanan darah. Bahasa awamnya, tensi.
Beliau cukup sepuh dibanding kami yang baru semester satu. Ekspektasi kami sederhana: ini orang pasti jagoan.
Izinkan saya potong sejenak. Secara umum, di dunia kami ada dua cabang besar dalam pembagian jalur kelimuan. Pertama jalur akademik, dan kedua jalur profesi. Yang pertama ini berkutat dengan pendidikan dan penelitian. Mereka yang memilihnya akan menjadi akademisi atau peneliti. Dan yang kedua akan berkutat dengan kasus-kasus di lapangan. Mereka yang menekuninya akan menjadi seorang klinisi. Seorang calon dokter bisa memilih satu jalur atau dua-duanya. Menjadi peneliti, klinisi, atau klinisi yang terus meneliti.
Nah, professor kami tadi, beliau murni seorang peneliti. Sama sekali tidak bersentuhan dengan urusan klinis. Mungkin tersebab tidak pernah lagi memegang tensimeter –karena bukan klinisi-, beliau sedikit gelagapan saat mengajarkan tentang cara mengukur tekanan darah. Sesuatu yang –bahkan sebenarnya-, anda tidak harus menjadi dokter untuk bisa melakukannya.
Begitu beliau selesai dengan kelasnya, mulailah satu persatu reaksi bermunculan. “Amarah” yang dipendam selama pelajaran berlangsung kini seperti menemukan muaranya.
“Gimana sih, masak iya jadi dosen ngajarnya kayak gitu?”. Atau “Masak iya sih ngajar tensi aja nggak bisa?” Dan berbagai macam “umpatan-umpatan” lain yang sepertinya sudah tak kuasa ditahan lebih lama lagi.
Wajar sebenarnya. Toh professor itu memang tidak bisa memenuhi ekspektasi murid-muridnya. Tapi petanyaannya, apakah pantas? Nah, mari kita pelajari.
——
Kita tahu apa itu adab. Sederhananya, adab adalah bagaimana kita menempatkan diri kita pada sesuatu yang sedang kita hadapi. Itu adab.
Seberapa penting pembahasan adab ini kita masukan pada saat kita membahas tentang tema menuntut ilmu?
Maka jawabannya adalah persis seperti apa yang disampaikan oleh abddullah ibnul mubarak.
Kata beliau, “Belajarlah adab sebelum belajar ilmu, karena ilmu tidak akan berguna tanpa adab. Demi allah, jika suatu saat kita mati saat mempelajari adab meskipun kita belum selesai mempelajari ilmu, maka itu sudah cukup bagi kita untuk menghadap Allah.”
Suatu hari Ibnu Sina sedang mendengarkan gurunya menyampaikan pengajarannya. Dengan kepandaian tingkat dewa yang dia punya, dia ajukan pertanyaan kepada sang guru, dengan maksud untuk menguji pemahaman gurunya. Jadi sebenarnya dia tahu apa jawabannya, namun dia ingin menguji seberapa hebat kemampuan gurunya.
Tiba-tiba berdirilah seorang murid senior dan mengatakan tepat di depan Ibnu Sinna, “Perbaikilah adabmu, wahai putra sinna. Demi Allah aku sendiri yang akan menjawab pertanyaanmu. Tidak perlu guru yang turun tangan menjawab pertanyaanmu!”
Berbicara tentang adab menuntut ilmu, maka sebenarnya kita sedang berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih penting daripada ilmu itu sendiri.
Imam syafi’i dengan sangat cemerlang mengajari kita tentang hal ini. Beliau mempunyai dua guru. Imam malik di madinah, dan Muslim bin Khalid Az-Zanji di makkah. Di dua tempat ini, seperti umumnya orang yang sedang berguru, imam syafi’i diberi kesempatan “magang” mengajar di majelis sang guru, dengan didampingi oleh beliau. Ada dua kursi disana. Satu untuk imam syafi’i, satu untuk sang guru. Di tengah-tengah beliau mengajar, beliau selalu menoleh ke arah sang guru, memastikan bahwa apa yang beliau ucapkan sudah tepat, dan meminta koreksi jika apa yang beliau sampaikan ternyata keliru. Itu waktu gurunya masih hidup.
Hebatnya, begitu kedua gurunya meninggal, beliau sama sekali tidak merubah kebiasaan itu. Tetap ada dua kuris di sana. Yang satu kursi diduduki beliau, yang satu kursi dibiarkan kosong (seolah-olah sang guru akan datang dan menduduki kursi itu). Bahkan saat tengah asik mengajar, beberapa kali beliau menoleh ke kursi kosong itu, meminta persetujuan dan koreksi, seolah-olah sang guru sedang ada di sana mendampinginya. Hebat bukan?
Pada akhirnya kita mengerti. Kunci rahasia mengapa Imam Syafi’i begitu dihormati adalah karena beliau juga sangat menghormati guru-gurunya. Menempatkan mereka pada posisi dimana seharusnya mereka ditempatkan. Memperlakukan mereka dengan sebaik-baik perlakuan, dan memberi penghormatan dengan setulus-tulus penghormatan.
Mungkin akan selalu segar di ingatan kita bagaimana seorang Syafi’i muda, dengan azzam kuat yang beliau miliki, beliau membeli kitab al muwatho’ karangan imam malik. Lalu, begitu kitab itu ada di genggaman tangan, dia hafalkan kitab itu dari awal hingga akhir. Setelah itu dia pergi ke imam malik. Untuk apa? Untuk belajar al muwatho’ yang sudah dia hafal di luar kepala.
Namun Syafi’i muda bukanlah kita, yang –jangankan hafal—tahu sedikit tentang sesuatu saja, kadang kita merasa tidak perlu belajar lagi. Sekali lagi Syafi’i muda bukanlah seperti kita. Walau dia hafal betul semua detail tulisan di al muwatho’, dia tetap dengan seksama mendengar penjelasan imam malik. Sebenarnya dia sudah tahu kata-kata apa yang akan disampaikan sang guru, namun dengan tekun dia dengarkan apa yang diajarkan gurunya itu, tanpa merasa sudah serba tahu. Hingga akhirnya imam malik yang justru menyadari “kejanggalan” ini.
“Nak, sepertinya kamu sudah tidak perlu aku ajari lagi. Sekarang gantian, kamu saja yang mengajar di sini.”
Dan ini yang menarik. Imam malik, sang pengarang kitab al muwatho’ itu, beliau masih “membutuhkan” catatan saat mengajarkan kitabnya sendiri. Sedangkan syafi’i? Dia tak perlu catatan lagi untuk mengajarkan kitab yang bahkan bukan karangannya.
Dari Imam syafi’i kita belajar tentang sebuah hal besar. Ada sebuah rangkaian paling penting dalam keberjalanan kita menuntut ilmu. Dia dinamakan adab, utamanya adalah adab terhadap guru-guru kita yang dengan rela membagi ilmu yang mereka punya.
Tolok ukur kebermanfaatan ilmu kita adalah, dengan adanya ilmu yang kita punya, kita semakin dekat kepadaNya. Maka otomatis, kita akan semakin rendah hati, karena kita benar-benar menyadari bahwa kita tidak akan menjadi apa-apa kalau Allah tidak mengizinkannya. Oleh karena itu, ketika ilmu yang kita punya justru membuat kita berani seenaknya menghina yang lainnya, menganggap rendah guru-guru kita, dan merasa tidak perlu lagi mendapat nasihat dari saudaranya, masihkah ia bisa dikatakan memberi manfaat untuk kita? Mari bertanya kepada diri kita masing-masing. Bisa jadi, belum manfaatnya ilmu kita selama ini hanya karena sebuah hal sederhana: buruknya adab kita. 
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube

Categories

recent posts

Sponsor

Facebook

Blog Archive

  • November 2020 (1)
  • Februari 2017 (9)
  • April 2016 (6)
  • April 2015 (2)
  • Maret 2015 (3)

Popular Posts

  • Anak Sholeh Masjid Baitul Makmur
    Anak sebagai generasi penerus keturunan kita adalah generasi yang penuh tantangan di era modern ini sumber informasi di sosial media mau m...
  • LAZ Baitul Makmur Menyalurkan Dana Tunai Korban Bencana Kintamani Kabupaten Bangli
    MUSIBAH bencana alam  yang merenggut korban jiwa dan merusak permukiman dan perkebunan warga di sejumlah 4 desa Awan, Babtas, Sukawana da...
  • Shodaqoh Yang Utama
    Sering kita mendengar, seorang wanita yang mengadu nasib ke negeri orang pulang dalam keadaan tinggal jasad, pulang dalam keadaan tubuh...

Search This Blog

Created with by ThemeXpose | ThemeWide